Review Makna Lagu Benci Tapi Rindu: Kerinduan Ingin Diakui. Lagu “Benci Tapi Rindu” yang dibawakan Mahalini bersama Aurelie (dirilis 2022) masih menjadi salah satu lagu paling relatable di kalangan pendengar Indonesia hingga sekarang. Dengan melodi pop-ballad yang lembut namun menusuk, lagu ini berhasil menangkap perasaan campur aduk yang sangat manusiawi: membenci seseorang tapi tetap merindukan kehadirannya. Di balik lirik yang sederhana dan mudah dinyanyikan, makna utamanya adalah kerinduan yang dalam untuk diakui—diakui sebagai bagian penting dari hidup orang tersebut, diakui bahwa kepergiannya meninggalkan luka, dan diakui bahwa meskipun “benci”, perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Lagu ini bukan sekadar curhat patah hati biasa; ia bicara tentang perjuangan batin untuk tetap bangga meski hati masih terikat. VENUE NIKAH
Lirik yang Menggambarkan Konflik Batin: Review Makna Lagu Benci Tapi Rindu: Kerinduan Ingin Diakui
Mahalini membuka lagu dengan baris yang langsung mengena: “Benci tapi rindu, rindu tapi benci”. Pengulangan kata itu bukan kebetulan—ia mencerminkan konflik batin yang terus berputar tanpa titik akhir. “Benci” muncul karena kekecewaan, pengkhianatan, atau sikap pasangan yang membuatnya merasa tidak dihargai. Tapi “rindu” tetap ada karena kenangan manis, kebiasaan bersama, atau harapan kecil yang belum sepenuhnya padam. Frasa “Aku benci kalau kau tak mengerti / Bahwa aku masih sayang walau kau pergi” adalah inti dari lagu ini. Ada kerinduan yang sangat kuat untuk diakui: diakui bahwa kepergiannya menyakitkan, diakui bahwa perasaan masih ada, diakui bahwa meskipun ditinggalkan, ia tidak pernah benar-benar membencinya sepenuh hati. Bagian “Ku coba lupakan, tapi ku tak bisa” dan “Kau yang buatku begini” menunjukkan rasa frustrasi karena tidak bisa mengendalikan perasaan sendiri—dan lebih mengecewakan lagi, orang yang dicintai seolah tidak peduli atau tidak menyadari dampaknya. Lirik ini terasa sangat jujur karena tidak berusaha terlihat kuat atau move on secara paksa; ia justru mengakui bahwa proses melepaskan itu berat dan penuh kontradiksi.
Konteks Emosional dan Pengaruh Budaya: Review Makna Lagu Benci Tapi Rindu: Kerinduan Ingin Diakui
Lagu ini muncul di masa ketika banyak pendengar—terutama perempuan muda—sedang mengalami fase pasca-putus yang penuh ambivalensi. Budaya Indonesia yang sering menekankan “move on cepat” atau “jangan kelihatan lemah” membuat perasaan “benci tapi rindu” terasa tabu untuk diungkapkan. Mahalini dan Aurelie berhasil membukanya dengan cara yang lembut tapi tegas, sehingga pendengar merasa terwakili tanpa merasa dihakimi. Melodi yang naik-turun emosional—dari bagian tenang di verse hingga chorus yang meledak—mencerminkan gelombang perasaan itu sendiri: kadang tenang menerima, kadang tiba-tiba ingin menangis atau marah. Kolaborasi dengan Aurelie menambah dimensi: dua suara perempuan yang saling melengkapi membuat lagu terasa seperti curhat bersama teman, bukan monolog sendirian. Di tahun 2026, lagu ini masih sering muncul di playlist “galau tapi pengen nangis”, “healing phase”, atau konten TikTok tentang red flags dan self-reflection.
Dampak Jangka Panjang dan Relevansi Hari Ini
Makna “Benci Tapi Rindu” terasa semakin dalam karena hampir setiap orang pernah berada di posisi itu: masih menyimpan perasaan meskipun tahu hubungan itu tidak sehat, atau masih rindu meskipun sudah memutuskan untuk pergi. Lagu ini tidak menawarkan solusi instan seperti “move on sekarang juga”—malah ia mengizinkan pendengar untuk merasakan semua emosi itu tanpa rasa bersalah. Di era media sosial yang sering menampilkan kesuksesan move on yang instagrammable, “Benci Tapi Rindu” seperti pengingat bahwa proses healing itu tidak selalu linier dan indah. Kadang memang masih benci, kadang masih rindu—dan keduanya bisa hidup berdampingan dalam satu hati. Lagu ini juga mengajak pendengar untuk mengakui bahwa kerinduan itu bukan kelemahan, melainkan bukti bahwa kita pernah benar-benar mencintai—dan itu sendiri sudah cukup berharga.
Kesimpulan
“ Benci Tapi Rindu” adalah potret jujur tentang kerinduan yang ingin diakui—diakui oleh orang yang pernah kita sayangi, diakui oleh diri sendiri, dan diakui bahwa perasaan itu sah meskipun rumit. Melalui lirik yang sederhana tapi menusuk, melodi yang emosional, dan harmoni dua suara perempuan yang saling menguatkan, lagu ini berhasil menjadi teman bagi siapa saja yang sedang berjuang dengan perasaan campur aduk. Ia tidak memaksa pendengar untuk langsung move on atau membenci pasangan lama—malah memberi ruang untuk merasakan semua itu sekaligus. Di tengah budaya yang sering menuntut kita untuk “kuat” atau “lupa segera”, lagu ini seperti izin untuk berkata: “Aku benci, tapi aku masih rindu—dan itu wajar.” Itulah kekuatannya: mengingatkan bahwa kerinduan yang ingin diakui bukan akhir cerita, melainkan bagian penting dari proses menyembuhkan diri sendiri.
