Makna Lagu Shoota – Playboy Carti. Di tahun 2026, “Shoota” milik Playboi Carti bersama Lil Uzi Vert masih sering muncul di playlist, TikTok sound, dan diskusi penggemar sebagai salah satu trek paling berenergi dari album Die Lit (2018). Dengan produksi Pi’erre Bourne yang khas—beat minimalis, 808 menggelegar, synth dreamy, dan tempo yang terasa mengalir lambat tapi memukul keras—lagu ini langsung jadi favorit karena kombinasi chemistry Carti dan Uzi yang sempurna. Liriknya terdengar repetitif dan sederhana di permukaan, tapi justru itulah kekuatannya: menciptakan vibe lebih dari cerita linear. Makna “Shoota” sebenarnya berlapis—dari flexing kekerasan jalanan, gaya hidup rockstar, hingga pernyataan dominasi di industri musik—semua dibungkus dalam delivery yang penuh ad-lib dan flow yang hipnotis. Lagu ini tetap relevan karena berhasil menangkap esensi trap era SoundCloud: ambisi besar, sikap tak peduli, dan pelarian ke dunia di mana uang serta status mengatasi segala. INFO SAHAM
Flexing Kekerasan dan Dominasi Jalanan: Makna Lagu Shoota – Playboy Carti
Di lapisan paling jelas, “Shoota” adalah lagu brag tentang kekerasan dan kekuasaan. Carti membuka dengan “I’m a motherfuckin’ shoota” dan terus mengulang frasa serupa, menciptakan gambaran dirinya sebagai sosok yang tidak bisa disentuh—siap “shoot” siapa saja yang mengganggu. Referensi senjata, seperti “Glock with the extension” atau “pull up in a foreign with a bad bitch”, adalah simbol status sekaligus ancaman. Bukan berarti Carti benar-benar hidup seperti itu setiap hari, tapi lirik ini adalah bagian dari persona rockstar-trap yang ia bangun: hidup di antara kemewahan dan bahaya, di mana kekerasan jadi bahasa untuk menegaskan dominasi. Uzi melengkapi dengan verse yang lebih liar—“I got the Draco with the extension”—memperkuat tema bahwa keduanya adalah “shoota” yang tak terkalahkan. Repetisi kata “shoota” bukan kebetulan; ia dirancang agar terngiang-ngiang dan membuat pendengar merasa bagian dari kekuatan itu. Bagi sebagian pendengar, bagian ini hanyalah flexing keren; bagi yang lain, ia mencerminkan realitas jalanan yang masih membayangi banyak artis rap meskipun sudah sukses besar.
Gaya Hidup Rockstar dan Ketergantungan pada Kemewahan: Makna Lagu Shoota – Playboy Carti
Di balik kekerasan, “Shoota” juga sangat tentang gaya hidup rockstar yang Carti dan Uzi peluk erat. Lirik seperti “Bad bitch, she from Europe” dan “Countin’ up these racks, yeah” menekankan kemewahan yang datang bersama ketenaran: perempuan cantik dari berbagai negara, tumpukan uang, mobil mewah, dan pesta tanpa akhir. Ada rasa euforia dalam pengulangan “I got money, I got money”, seolah-olah kekayaan itu sudah jadi identitas utama. Namun di sela-sela flexing muncul nada paranoia dan ketergantungan—“She wanna fuck with a rockstar”—yang menunjukkan hubungan hanya berdasarkan status, bukan perasaan asli. Carti sering menyisipkan kontradiksi kecil: ingin merasa superior tapi tetap membutuhkan validasi dari orang lain. Uzi menambahkan lapisan dengan bar-bar yang lebih emosional dan playful, menciptakan dinamika duo yang saling melengkapi. Secara keseluruhan, lagu ini menggambarkan mimpi generasi muda: naik dari bawah ke atas, memiliki segalanya, tapi juga menyadari bahwa kemewahan itu rapuh dan sering datang bersama rasa sepi atau curiga terhadap orang di sekitar.
Produksi dan Pengaruh Budaya Jangka Panjang
Makna “Shoota” tidak lengkap tanpa membahas produksi Pi’erre Bourne. Beat yang terasa ringan namun berat—synth ethereal bertemu 808 dalam-dalam—menciptakan kontras sempurna dengan lirik keras: hidup mewah terdengar mudah dan mengalir, padahal penuh tekanan. Ad-lib khas Carti (“Slatt!”, “What?”, suara tawa dan efek suara) menambah kesan chaos terkontrol, membuat pendengar merasa berada di dalam pesta liar tapi tetap stylish. Lagu ini menjadi blueprint bagi banyak artis setelahnya: flow repetitif untuk efek hipnotis, fokus pada vibe daripada narasi panjang, serta perpaduan antara attitude punk dan kemewahan hip-hop. “Shoota” membantu memperkuat gelombang “rockstar trap” yang menggabungkan energi punk dengan flexing rap, pengaruh yang masih terasa kuat di 2026. Bagi sebagian pendengar, lagu ini hanyalah soundtrack untuk flexing di media sosial; bagi yang lain, ia adalah potret generasi yang mendefinisikan kesuksesan melalui status, tapi juga merasakan kekosongan di balik gemerlap itu.
Kesimpulan
“Shoota” bukan sekadar lagu trap biasa—ia adalah pernyataan gaya hidup yang penuh kontradiksi: kekerasan sebagai simbol kekuasaan, kemewahan sebagai pelarian, dan ketenaran sebagai beban sekaligus trofi. Carti dan Uzi menyampaikannya dengan cara paling minimalis—repetisi, ad-lib, dan vibe—tapi justru itulah yang membuatnya melekat kuat di benak pendengar. Di tahun 2026, ketika trap terus berevolusi, “Shoota” tetap jadi pengingat bahwa di balik semua flexing ada realitas yang lebih rumit: ambisi besar sering datang dengan paranoia, hubungan yang dangkal, dan pertanyaan apakah semua kemewahan itu benar-benar berarti. Lagu ini bukan tentang cerita mendalam, melainkan tentang perasaan—rasa kuat, rasa bebas, dan rasa rapuh yang hidup berdampingan. Itulah mengapa “Shoota” masih diputar hingga sekarang: ia tidak hanya terdengar keren, tapi juga terasa nyata bagi siapa saja yang pernah bermimpi naik ke atas dengan cara apa pun.
